Wednesday, October 24, 2012

Trauma abdoemen

Trauma abdoemen dapat dibagi menjadi trauma tembus dan trauma tumpul. Akibat dari trauma dapat berupa perforasi ataupun perdarahan. Kematian karena trauma abdomen biasanya terjadi akibat sepsis atau perdarahan.
Tipe Cedera
Berdasarkan organ yang terkena dapat dibagi menjadi dua :
·         Pada organ padat, seperti hepar, limpa dengan gejala utama perdarahan.
·         Pada organ berongga seperti usus, saluran empedu dengan gejala utama adalah peritonitis.
Mekanisme Trauma
A.   Trauma Tembus Abdomen
Luka tusuk ataupun luka tembak akan mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi ataupun terpotong.
Usus merupakan organ yang paling sering terkena pada luka tembus abdomen, sebab usus mengisi sebagian besar rongga abdomen.
Manifestasi Klinis
Trauma tembus dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis jika mengenai organ berongga intra peritonial. rangsangan peritonial timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut.
1.      Gaster yang bersifat kimia à onsetnya paling cepat. (akan terjadi peradangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis yang hebat)

2.      Kolon yang berisi feses à onsetnya paling lambat. (mula-mula tidak terdapat gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritonium)

Pada luka tembak atau luka tusuk tidak perlu lagi dicari tanda-tanda peritonitis karena ini merupakan ”indikasi untuk segera dilakukan laparotomi eksplorasi”.
B.   Trauma Tumpul Abdomen
Mekanisme terjadinya trauma pada trauma tumpul disebabkan adannya deselarasi cepat dan adanya organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan (noncompliance organ) seperti hati, limpa, pankreas, dan ginjal.
Manifestasi Klinis
  1. Adanya darah atau cairan usus akan menimbulkan rangsangan peritoneum berupa nyeri tekan, nyeri ketok dan nyeri lepas, dan kekuatan dinding perut.
  2. Adanya darah juga dapat ditentukan dengan adanya sfitting dullness (bunyi  redup ketok yang berpindah).
  3. Rangsangan peritoneum dapat pula berupa nyeri alih di daerah bahu teritama sebelah kiri.
Pada trauma tumpul seringkali “diperlukan observasi dan pemeriksaan berulang” karena tanda rangsangan peritoneum bisa timbul perlahan-lahan.

Penegakkan diagnosis
Anamnesis
Pada luka tusuk, tanyakan :
  • waktu terjadinya trauma,  jenis senjata yang dipergunakan (senapan, pistol, pisau) jarak dari pelaku, jumlah tikaman atau tembakan, dan jumlah perdarahan eksternal yang tercatat ditempat kejadian.
Pada luka tumpul, tanyakan :
  • jika mengalami kecelakaan kendaraan bermotor ; kecepatan kendaraan, jenis tabrakan, posis pasien dalam kendaraan (sebagai penumpang atau pengemudi)
  • Diagnosis perdarahan intraabdomen akibat trauma tumpul lebih sulit dibandingkan dengan akibat trauma tajam. Untuk membantu menentukan apakah ada perdarahan dapat dibantu edngan metode VON LANY à dengan membandingkan leukosit dengan eritrosit setiap setengah jam. Bila leukosit terus meningkat sedangkan eritrosit menurun tanpa tanda-tanda radang, ini memberikan petunjuk adanya perdarahan.
Pemeriksaan Fisik
Setelah pasien stabil yaitu airway, breathing, circulation baru kita lakukan pemeriksaan fisik. INGAT !! syok dan penurunan kesadaran dapat menimbulkan kesulitan dalam pemeriksaan abdomen karena akan menghilangkan gejala perut. Jejas di dinding perut menunjang terjadinya trauma abdomen.
  1. Inspeksi
Diperiksa tanpa pakaian. Eksplorasi seluruh lapang pandang abdomen. Apakah ada memar, laserasi, liang tusukan, benda asing yang menancap, usus yang keluar.
  1. Auskultasi
Periksa bising usus. Darah bebas di retroperitoneum ataupun gastrointestinal dapat mengakibatkan ileus, yang mengakibatkan hilangnya bising usus.
  1. Perkusi
Dengan perkusi ini kita dapat menemukan adanya nada timpani karena dilatasi lambung akut ataupun adanya perkusi redup bila ada hemoperitoneum.
  1. Palpasi
Menemukan nyeri lepas, menunjukkan adanya peritonitis, yang biasanya kontaminasi isi usus.
Lain-lain
  1. Evaluasi luka tusuk
  2. Menilai stabilitas pelvis
  3. Pemeriksaan penis, perineum, dan rektum
  4. Pemeriksaan vagina
  5. Pemeriksaan gluteal
Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui adanya cedera anorektal atau uretra, pemasangan kateter untuk mengetahui adanya darah pada saluran kemih, dan monitoring produksi urin. Pemasangan kateter dilakukan setelah dipastikan tidak terdapat cedera uretra dengan colok dubur. dan pemasangan NGT untuk mengetahui adanya perdarahan saluran cerna atas dan dekompresi lambung.

Pemeriksaan Tambahan
  • Pemeriksaan tambahan tidak boleh sampai menghambat transportasi pasien.
Pemeriksaan radiologi à Foto polos abdomen 3 posisi; yang perlu diperhatikan adalah tulang belakang, pelvic, benda asing, bayangan otot psoas dan udara bebas intra atau peritoneal.
IVP atau Sistogram hanya dilakukan bila dicuragai adanya trauma saluran kencing.
DPL  (Diagnostic Peritoneum Lavase)dilakukan untuk mengetahui adanya cairan intrabdominal. Hasilnya positif bila cairan yang keluar kemerahan, adanya empedu, ditemukannya bakteri atau eritrosit > 100.000/m3; leukosit > 500/m3 dan kadar amylase > 100U/100ml.

Penatalaksaan Pada Trauma Tajam
Hal umum yang perlu mendapatkan perhatian adalah atasi dahulu ABC bila pasien telah stabil baru kita memikirkan penatalaksaan abdomen itu sendiri. Pipa lambung, selain untuk  diagnostik, harus segera dipasang untuk mencegah terjadinya aspirasi bila terjadi muntah. Sedangkan kateter dipasang untuk mengosongkan kandung kencing dan menilai urin.
Penatalaksaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda. Namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani eksprolarasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil.
Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus di eksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoneum maka tindakan laparotomi diperlukan. Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdapat darah dalam lambung, buli-buli dan rektum, adanya udara bebas intraperitoneal, dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparatomi. Bila tidak ada, pasien harus diobservasi selama 24 sampai 48 jam. Sedangkan pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparatomi.


Penatalaksanaan Pada Trauma Tumpul
Hal umum yang perlu dilakukan atasi dahulu ABC, bila pasien telah stabil baru kita memikirkan penatalaksaan abdomen itu sendiri. Pipa lambung selain berguna untuk diagnostic hal ini juga dipasang untuk mencegah terjadinya aspirasi bila terjadi muntah.
Pada trauma tumpul, bila terdapat tanda kerusakan intra peritoneum harus dilakukan laparotomi, sedangkan bila tidak pasien hanya diobservasi selama 24-48 jam.
Description: Trauma abdoemen Rating: 4.5 Reviewer: Ningsih iyya - ItemReviewed: Trauma abdoemen

No comments:

Post a Comment

Google+ Followers