Monday, June 13, 2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS FARINGITIS


I.       FARINGITIS
A.    DEFINISI
Adalah peradangan pada mukosa faring.
(Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000)
B.     ETIOLOGI/ PATOFISIOLOGI
Etiologi faringitis akut adalah bakteri atau virus yang ditularkan secara droplet infection atau melalui bahan makanan / minuman / alat makan. Penyakit  ini dapat sebagai  permulaan  penyakit lain, misalnya : morbili, Influenza, pnemonia, parotitis , varisela, arthritis, atau radang  bersamaan dengan infeksi jalan nafas bagian atas   yaitu: rinitis akut, nasofaringitis, laryngitis akut, bronchitis akut. Kronis  hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring. Tampak mukosa menebal serta hipertropi kelenjar limfe dibawahnya dan dibelakang arkus faring posterior (lateral band). Adanya mukosa dinding posterior tidak rata yang disebut granuler.
Sedangkan faringitis kronis atropi sering timbul bersama dengan rinitis atropi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembabannya, sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring. 

Dibedakan menjadi :
<Faringitis kronis
Faktor predisposisi:
-          Rinitis kronis
-          Sinusitis
-          Iritasi kronik pada perokok dan peminum alkohol
-          Inhalasi uap pada pekerja dan laboratorium
-          Orang yang sering bernafas dengan mulut karena hidungnya tersumbat.
a.       Faringitis kronis hiperplastik
a.1   Gejala :
-          Pasien mengeluh gatal ditenggorokan
-          Berasa kering
-          Berlendir
-          Kadang - kadang ada batuk
a.2   Terapi :
-          Dicari dan diobati adanya penyalkit kronis dihidung dan sinus paranasal
-          Terapi lokal dengan menggosokkan zat kimia (kaustik) yaitu : larutan nitres argenti atau albotil maupun dengan listrik (elektrocauter)
-          Secara simptomatik, diberikan obat isap / kumur dan obat batuk
b.      Faringitis kronis atropi (faringitis sika)
b.1  Gejala dan tanda :
-          Pasien mengeluh tenggorokan kering dan tebal
-          Mulut berbau
-          Pada pemeriksaan tampak mukosa faring terdapat lendir yang melekat
-          Jika lendir diangkat mukosa tampak kering


b.2  Terapi:
-          Sama dengan rinitis atropi
-          Pemberian obat kumur
-          Penjagaan hygiene mulut
-          Obat simptomatik

<Faringitis Spesifik  
a.       Faringitis Leutika
a.1   Gejala dan tanda :
a.1.1         Stadium primer :
-       Bercak keputihan pada lidah, palatum mole, tonsil dan dinding faring posterior
-       Timbul ulkus karena infeksi yang lama
-       Pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri tekan
a.2.1         Stadium sekunder :
-          Jarang ditemukan
-          Terdapat eritema pada dinding faring yang menjalar kearah laring
a.3.1         Stadium tersier :
-       Terdapat guma pada tonsil dan palatum
-       Guma pada dinding faring pada posterior akan mengenai vertebra servikal
-       Gangguan fungsi palatum secara permanen akibat adanya guma pada palatum mole
a.2   Diagnosis : dengan pemeriksaan serologic
a.3   Terapi : Obat pilihan utama pinissilin dalam dosis tinggi
b.      Faringitis Tuberkolusa
b.1  Cara infeksi :
-          Cara eksogen yaitu kontak dengan sputum yang  mengandung kuman atau inhalasi kuman melalui udara
-          Cara endogen yaitu penyebaran melalui darah pada tuberkolusis miliaris
Penelitian saat ini menemukan penyebaran secara limfogen
b.2  Bentuk dan tempat lesi
-          Berbentuk ulkus pada satu sisi tonsil dan jaringan tonsil itu akan mengalami nekrosis
-          Pada infeksi secara hematogen tonsil dapat terkena pada kedua sisi terutama pada dinding faring posterior, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan palatum durum
-          Kelenjar regional leher membengkak
b.3  Gejala:
-          Pasien mengeluh nyeri hebat ditenggorokan
-          Keadaan buruk : anoreksi, nyeri menelan makanan
-          Regurgitasi
-          Nyeri di telinga (otalgia) Adenopati servikal
b.4   Diagnosis :
-          Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam
-          Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru
-          Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan
b.5  Terapi: sesuai dengan terapi tuberkolusis paru

II.    ASUHANKEPERAWATAN

A.    Pengkajian

1.      Data Dasar
2.      Riwayat Kesehatan.
3.      Pemeriksaan Fisik
Pada farmgitis  kronis , pengkajian  head to toe yang  dilakukan     lebih difokuskan pada:
a.       Sistem pernafasan :
Batuk, sesak

B.     Diagnosa Keperawatan

1.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rubor, dolor, kalor, tumor, fungsiolaesa pada mukosa
Tujuan   : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan dan kolaboratif untuk pemberian analgetik

Intervensi Keperawatan:
a.       Kaji lokasi,intensitas dan karakteristik nyeri
b.      Identifikasi adanya tanda-tanda radang
c.       Monitor aktivitas yang dapat meningkatkan nyeri
d.      Kompres es di sekitar leher
e.       Kolaborasi untuk pemberian analgetik
2.      Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan intake yang kurang sekunder dengan kesulitan menelan ditandai dengan penurunan berat badan, pemasukan makanan berkurang, nafsu makan kurang, sulit untuk menelan, HB kurang dari normal
Tujuan: gangguan pemenuhan nutrisi teratasi setelah dilakukan asuhan keperawatan yang efektif

Intervensi Keperawatan :
a.       Monitor balance intake dengan output
b.      Timbang berat badan tiap hari
c.       Berikan makanan cair / lunak
d.      Beri makan sedikit tapi sering
e.       Kolaborasi pemberian roborantia
3.      Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan sekret yang kental ditandai dengan kesulitan dalam bernafas, batuk terdapat kumpulan sputum, ditemukan suara nafas tambahan
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif  ditujukkan dengan tidak ada sekret yang berlebihan

Intervensi Keperawatan :
a.       Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien
b.      Monitor suara nafas tambahan
c.       Anjurkan untuk minum air hangat
d.      Ajari pasien untuk batuk efektif
e.       Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran
4.      Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan demam, ketidakcukupan pemasukan oral ditandai dengan turgor kulit kering, mukosa mulut kering, keluar keringat berlebih
Tujuan: Resiko tinggi defisit volume cairan dapat dihindari

Intervensi Keperawatan :
a.       Monitor intake dan output cairan
b.      Monitor timbulnya tanda-tanda dehidrasi
c.       Berikan intake cairan yang adekuat
d.      Kolaborasi pemberian cairan secara parenteral (jika diperlukan)
5.      Resiko tinggi penularan penyakit berhubungan dengan kontak, penularan melalui udara
Tujuan: Resiko tinggi penularan penyakit dapat dihindari

Intervensi keperawatan
Mengajarkan pasien tentang pentingnya peningkatan kesehatan dan pencegahan infeksi lebih lanjut:
a.       Menganjurkan pasien untuk istirahat
b.      Menghindari kontak langsung dengan orang yang terkena infeksi pernafasan
c.       Menutup mulut bila batuk / bersin
d.      Mencuci tangan
e.       Makan- makan bergisi
f.       Menghindari penyebab iritasi
g.      Oral hygine
6.      Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan dehidrasi, inflamasi ditandai dengan suhu tubuh lebih dari normal, pasien gelisah, demam
Tujuan: Suhu tubuh dalam batas normal, adanya kondisi dehidrasi, inflamasi teratasi

Intervensi keperawatan
a.       Ukur tanda-tanda vital
b.      Monitor temperatur tubuh secara teratur
c.       Identifikasi adanya dehidrasi, peradangan
d.      Kompres es disekitar leher
e.       Kolaborasi pemberian antibiotik, antipiretik

DAFTAR  PUSTAKA

Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorokan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Sabiston David. C, Jr. M.D, 1994, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Description: ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS FARINGITIS Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS FARINGITIS

ASKEP PADA KLIEN DENGAN CA NASOFARING

LAPORAN PENDAHULUAN

A.    Pengertian

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring.  Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001)

B.    Etiologi
Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit  juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001).

D.    Tanda dan Gejala

Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara lain :
1.       Gejala nasofaring
Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung.
2.       Gangguan pada telinga
Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan yang timbul akibat sumbatan pada tuba eustachius seperti tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia)
3.                  Gangguan mata dan syaraf
Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.
Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral.
4.       Metastasis ke kelenjar leher
Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat.

E.    Pemeriksaan Penunjang
1.        Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
2.        Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virus E-B.
3.        Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10 %.
4.        Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.

F.     Penatalaksanaan Medis

1.        Radioterapi merupakan pengobatan utama
2.        Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.
Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat “RADIOSENSITIZER”.

G.   Pengkajian

1.        Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara

2.        Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.

3.        Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).

4.        Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup.

5.        Tanda dan gejala :

 Aktivitas

Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yangmempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.


 Sirkulasi

Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidung.

 Integritas ego

Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

 Eliminasi

Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen.

 Makanan/cairan

Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.

 Neurosensori

Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus

 Nyeri/kenyamanan

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran

 Pernapasan

Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan

 Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit.

 Seksualitas

Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.

 Interaksi sosial

Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung

DAFTAR PUSTAKA

1.      Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

2.      Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

3.      Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001

4.      R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997

5.   Purnaman S. Pandi.
Description: ASKEP PADA KLIEN DENGAN CA NASOFARING Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: ASKEP PADA KLIEN DENGAN CA NASOFARING

ASKEP ANGIOFIBROMA


A.    PENGERTIAN
Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja.
Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya ada laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja
Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh tumor kepala dan leher

B.     ETIOLOGI
Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan. Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal.
Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak .

C.    TANDA DAN GEJALA
Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang paling sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi. Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.

D.    PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos, CT scan, angiografi atau MRI. Dijumpai tanda Holman-Miller pada pemeriksaan x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila4. Biopsi tidak dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik pemeriksaan radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
Tumor ini dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan lain-lain.

E.     PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren, stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus yang rekuren.
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan selama operasi2,4,5. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel reabsorpsi seperti Gelfoam, Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon dan Terbal. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing.

F.     KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan transformasi maligna.



G.    STADIUM ANGIOFIBROMA
Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.
Klasifikasi menurut Sessions sebagai erikut :
1.      Stage IA          : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring
2.      Stage IB          : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.
3.      Stage IIA        : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.
4.      Stage IIB        : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita.
5.      Stage IIIA       : Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial yang minimal.
6.      Stage IIIB       : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus.

Klasifikasi menurut Fisch :
  1. Stage I             : Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.
  2. Stage II           :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan destruksi tulang.
  3. Stage III          :Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus.
  4. Stage IV          : Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.







H.    PENGKAJIAN

a.        Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara

b.        Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.

c.        Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).


d.       Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)


e.        Tanda dan gejala :

v  Aktivitas

Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.


v  Sirkulasi

Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidung.


v  Integritas ego

Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.


v  Eliminasi

Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen.

v  Makanan/cairan

Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.


v  Neurosensori

Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus

v  Nyeri/kenyamanan

Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan

v  Pernapasan

Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok)

v  Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit.

v  Interaksi sosial

Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
                 (Doenges, 2000)


H.  Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf

Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri .
Intervensi :
S  Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi
S  Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan.
S  Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.
S  Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol
S  Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik.

2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder
Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi
Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan
Intervensi :
S  Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.
S  Orientasikan pasien terhadap lingkungan
S  Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi
S  Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur
S  Bicara dengan gerak mulut yang jelas
S  Bicara pada sisi telinga yang sehat

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,   mual muntah sekunder
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria hasil :
§  Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah
§  Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat
§  Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
§  Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan
     Intervensi :
S  Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi pasien
S  Berikan dorongan higiene oral yang sering
S  Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan
S  Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji masukan dan haluaran.
S  Pantau masukan makanan tiap hari.
S  Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)
S  Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat.
S  Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan)

4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
§  Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal
§  Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.
§  Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi dan infeksi respiratori
Intervensi :
S  Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :
S  Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat berkemih
S  Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi pengunjung yang mengalami infeksi.
S  Tekankan higiene personal
S  Pantau suhu
S  Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)

9. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik
Tujuan : perdarahan dapat teratasi
Kriteria hasil :
§  Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi
§  Tidak menunjukkan adanya epistaksis
Intervensi :
S  Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit
S  Kaji terhadap perdarahan : epsitaksis
S  Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : minimalkan penekanan/ gesekan pada hidung




















Kepustakaan

1.      Averdi R, Umar SD. Angiofibroma Nasofaring Belia. Dalam : Efiaty AS, Nurbaiti I.
2.      Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5, Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 2001. 151-2.
3.      Tewfik TL. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic470.htm
4.      Adams GL, et al. Boies – Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997.
5.       Sadeghi N. Sinonasal Papillomas, Treatment. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic529.htm
6.      Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
7.      Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
8.      R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
4.   Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001
Description: ASKEP ANGIOFIBROMA Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: ASKEP ANGIOFIBROMA