Saturday, December 1, 2012

LP HERPES SIMPPLEK

HERPES SIMPPLEK

      A. HERPES SIMPLEK

1.   Definisi
      Herpes Simplek adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simplek   tife I atau tife II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritemetosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens
      2.   Epidemiologi
          Penyakit ini tersebar kosmopolitan dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simplek tife I biasanya dimulai pada usia anak – anak, sedangkan infeksi infeksi verpes simplek tife II biasamnya terjadi pada decade II dan III, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual
3.  Etiologi
     Verpes simpleks tife I dan II merupakan virus herpes hominis yang merupakan virus DNA. Pembagian tife I dan II berdasarkan karekkteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic marker, dan lokasi klinis .
     4.   Gejala Klinis
     Infeksi ini berlangsung dalam 3 tingkat yaitu :
·        Infeksi primer
      Tempat predileksi VHS tife I didaerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak – anak. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan misalnya kontak langsung dengan kulit . Infeksi primer oleh VHS tife II mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke bawah terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus .
      Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira – kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malese dan anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional .
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang – kadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatric. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Kadang – kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga memberikan gambaran yang tidak jelas. Umumnya didapati pada orang yang kekurangan antibody VHS. Pada wanita ada laporan yang mengatakan bahwa 80 % infeksi VHS pada genetalia eksterna disertai infeksi serviks
·        Fase Laten
Fase ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi VHS ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis
·        Infeksi rekurens
Infeksi ini berarti VHS pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu ini dapat berupa trauma fisik         ( demam, infrksi, kurang tidur, hubungan seksual, dll ), trauma psikis          ( ganguan emosional, menstruasi dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang .
Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira – kira 7 – 10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal local sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Infeksi rekurens ini dapat timbul pada tempat yang sama   ( loco ) atau tempat lain / disekitarnya ( non loco )
5.   Pemeriksaan Diagnostik
·        Biopsy kulit dari vesikel karena virus yang khas akan menunjukkan : lesi inta epidermal atau di dermis tengah sampai atas, degerasi hidropik dari    sel – sel raksasa  karena virus besra dan berinti banyak
·        Suatu preparat apus sitologi dari vesikula, tujuannya mencari sel – sel raksasa
·        Virus bisa dibiakkan dengan mudah dan cepat dari cairan vesikula                ( 48 jam )
·        Titer antibody pe ntral akan meningkat sesuadah minggu pertama dari infeksi primer dan mencapai puncak dalam 2 – 3 minggu
6.   Penatalaksanaan
    • Tindakan pencegahan
Pengunaan vaksinasi cacar ternyata belum terbukti dapat Herpes simpleks yang kumat – kumatan. Langkah – langkah khusus dapat diambil untuk melawan factor perangsang diantaranya menghindari paparan sinar matahari yang terlalu lama, menghindari trauma dan mengkonsumsi makanan yang mempunyai gizi tinggi guna meningkatkan daya tahan tubuh .  
·        Terapi aktif
Infeksi primer
a.    Analgetik, jika salisilat tidak cukup kuat mungkin perlu opiat untuk        7 – 10 hari pertama
b.   Kumur pembersih mulut
c.    Vulvovaginitis dan lesi genital bisa diatasi dengan berendam air hangat dengan menggunakan atau tanpa menggunakan Aveeno ( R ) colloidal oatmeal 
d.   Cairan intravenous dan antibiotik topical bila diperlukan
·        Infeksi yang kumat – kumatan
a.    Obat – obat pengering dan pereda sakit local ( 70 % alcohol, 10 % aluminium acetate, blistex ( R ) )
b.   Antibiotik topical dioles pada lesi – lesi yang sedang sembuh akan mencegah super infeksi bakteri
c.    Beberapa beranggapan bahwa fluorinated steroid yang keras akan mengurangi derajat keparahan
7.  Prognosis
          Selama pencegahan rekurens masih merupakan problem, hal tersebut secara psikologik akan memberatkan penderita. Pengobatan secara dini dan tepat memberikan prognasis yang lebih baik , yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang
          Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya pada penyakit – penyakit dengan tumor di sitem retikuloendotelial, pengobatan dengan immunosupresan atau fisik yang sangat lemah menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat – alat dalam dan dapat berakibat fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa
B. HERPES ZOSTER
1.  Definisi
          Herpes Zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus visela – zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktifasi virus yang terjadi setelah infeksi primer      
2.   Epidemiologi
Penyebarannya sama seperti varisela. Penyakit ini seperti yang diterangkan dalam definisi merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah penderita mendapat varisela. Kadang – kadang varisela ini berlangsung subklinis. Tetapi ada penderita yang menyatakan kemungkinan transmisi virus secara aerogen dari pasien yang sedang menderita varisela atau herpes zoster.
3.  Patogenesis
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis. Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkatdengan daerah persarafan ganglion tersebut. Kadang – kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis sehingga memberikan gejala – gejala gangguan motorik.
4.   Gejala Klinis
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal, walaupun daerah – daerah lain tidak jarang. Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama, sedang mengenai umur lebih sering pada orang dewasa.
Sebelum timbul gejala kulit terdapat gejala prodromal baik sistemik ( demam, pusing, malaise ), maupun gejala prodromal local ( nyeri otot- tulang, gatal, pegal dan sebagainya ). Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritematosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi keruh                    ( berwarna abu – abu ), dapat menjadi pustula dan krusta. Kadang – kadang vesikel mengandung dasrah dan disebut sebagai herpes zoster hemoragik. Dapat pula timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyembuhan berupa sikatriks.
Masa tunasnya 7 – 12 hari. Masa aktif penyakit ini berupa lesi – lesi baru yang tetap timbul berlangsung kira – kira seminggu, sedangkan masa resolusi berlangsung kira – kira 1 – 2 minggu. Disamping gejala kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar getah bening regional.
Lokalisasi penyakit adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan tempat persarafan. Pada susunan saraf tepi jarang terjadi kelainan motorik, tetapi pada susunan saraf pusat kelainan ini lebih sering karena strukturganglion kranialis memungkinkan hal tersebut. Hiperestesi pada daerah yang terkena memberi gejala yang khas. Kelainan pada muka seringdisebabkan oleh karena gangguan pada nervus trigeminus ( dengan ganglion gaseri ) atau nervus fasialis dan oftikus ( dari ganglion genitalium )
Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus trigeminus, sehingga menimbulkan pada mata, disamping itu juga cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persarafannya. Sindrom Ramsay Hunt disebabkan oleh gangguan nervus fasialis dan optikus, sehingga memberikan gejala paralysis otot muka( paralysis bell ), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus dan pengecapan.herpes zoster abortif artinya penyakit ini berlangsung dalam waktu yang singkat dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan eritema. Pada herpes zoster generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segmental ditambah kelainan kulit yang yang menyebar secara generalisata berupa vesikel yang solitar dan ada umbilikasi. Kasus ini terutama terjadi pada orang tua atau pada orang yang kondisi fisiknya sangat lemah, misalnya pada penderita limfoma malignum.
Neuralgia pascaherpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung sampai beberapa bulan bahkan bertahun- tahun  dengan gradasi nyeri yang bervariasi dalam kehidupan sehari – hari. Kecendrungan ini dijumpai pada orang yang mendapat herpes zoster di atas usia 40 tahun.
5.   Komplikasi
Neuralgia pascaherpetik dapat timbul diatas 40 tahun, presentasenya 10 – 15 %. Makin tua penderita makin tinggi presentasenya.
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas  biasanya tanpa komplikasi. Sebaliknya pada penderita yang disertai defisiensi imunitas, infeksi HIV, keganasan atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
Pada herpes zoster oftalmikus dapat terjadi berbagai komplikasi, diantaranya ptosis paralitik, skleritis, uveitis dan korioretenitis.
Paralysis motorik terdapat pada 1 – 5 % kasus, yang terjadi akibat penjalaran virus secara perlahan.dari ganglion sensorik ke system saraf yang berdekatan. Paralysis biasanya timbul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Berbagai paralysis dapat terjadi, misalnya dimuka, diafragma, batang tubuh, ekstrimitas, vesika urinaria dan anus. Umumnya akan sembuh spontan.
Infeksi juga dapat menjalar ke alat dalam, misalnya paru, hepar dan otak
6.   Pembantu Diagnosis
Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia
berinti banyak.
7.   Diagnosis Banding
·        Herpes simpleks
·        Pada nyeri yang merupakan gejala prodromal local sering salah diagnosis dengan penyakit reumatik maupun dengan angina pectoris, jika terdapat setinggi jantung.
8.   Pengobatan
Teraphi sistemik umumnya bersifat simptomayik, untuk nyerinya diberikan analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik.
Indikasi pemberian obat antiviral adalah herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan defisiensi imunitas mengingat komplikasinya. Obat yang biasa digunakan adalah asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir. Sebaiknya diberikan dalam 3 hari pertam sejak lesi muncul.
Dosis asiklovir yang dianjurkan adalah 5 x 800 mg sehari dan biasanya diberikan          7 hari, sedangkan valasiklovir cukup 3 x 1000 mg sehari karena konsentrasi  dalam plasma lebih tinggi. Jika lesi baru masih tetap timbul obat tersebut masih dapat diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.
Isoprinosin sebagai imunostilator tidak berguna karena awitan kerjanya baru setelah 2 – 8 minggu , sedangkan masa aktif penyakit kira – kira hanya seminggu.
Indikasi pemberian kortikosteroid ialah untuk sindrom Ramsay Hunt.pemberian harus sedini mungkun untuk mencegah terjadinya paralysis. Yang biasa diberikan adalah prednison dengan dosis 3 x 20 mg sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap.
Dengan dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung dengan  obat antiviral. Dikatakan kegunaannya untuk mencegah vibrosis ganglion.
Pengobatan topical bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salep antibiotik.
9.   Prognosis
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan perawatan secara dini.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1.   Anamnesa
a.  Apakah ada rasa gatal, nyeri pada kulit
b.  Apakah kulit terasa panas seperti terbakar
c.  Apakah terjadi demam, malese, anoreksia
d   Apakah ada perubahan warna kulit pada lesi
e.  Apakah menyertai kekurangan gizi / penurunan daya tahan tubuh
f.   Apakah pernah mempunyai riwayat penyakit kulit yang sama sebelumnya
2.  Pemeriksaan Fisik
a.  Pembengkakan kelenjar getah bening
b.  Integritas kulit ; vesikel berkelompok sembab, eritematosa, krustosa
c.  Warna kulit ; adakah perubahan warna kulit
d.  Lokasi lesi ; didaerah oral.genital, daerah torakal, daerah saraf tepi
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.  Pada fase infeksi primer
a.  Perubahan kenyamanan ; nyeri,gatal
Berhubungan dengan ;
·        Infeksi virus
·        Erupsi dermal
Ditandai dengan ;
·        Klien mengeluh gatal pada daerah yang terkena infeksi
·        Klien mengeluh nyeri pada daerah lesi
·        Skala nyeri pada angka ….. (skala 1 – 10 )
·        Klien tanpa menggaruk daerah yang terinfeksi
b.  Kerusakan integritas kulit
     Berhubungan dengan ;
·        Lesi
·        Krusta pada kulit,pruritus
Ditandai dengan ;
·        Tampak kulit tidak utuh
·        Tampak lesi pada kulit yang terinfeksi virus
c.  Perubahan suhu tubuh
     Berhubungan dengan ;
·        Infeksi virus
Ditandai dengan ;
·        Klien demam
·        Klien tampak menggil
·        Suhu tubuh meningkat ( lebih dari 37 o C )
d.  Resiko ter hadap kerusakan interaksi social
     Berhubungan dengan ;
·        Ketakutan akan keadaan yang memalukan
·        Reaksi yang negatif dari orang lain
Ditandai dengan
·        Klien malu untuk bergaul
·        Klien merasa rendah diri
e.  Resiko terhadap penularan infeksi
     Berhubungan dengan ;
·        Sifat menular dari organisme
·        Kontak langsung dengan klien
·        Kurangnya pengetahuan
2.  Fase infeksi Rekurens
a.  Gangguan rasa nyaman ; nyeri, gatal
b.  Gangguan kerusakan integritas kulit
c.  Resiko terhadap penularan
e.    Kerusakan interaksi sosial
C. PERENCANAAN
1.  Diagnosa keperawatan 1
     Tujuan :
     Perubahan kenyamanan teratasi dengan criteria :
·        Rasa gatal hilang
·        Rasa nyeri berkurang samapi dengan hilang
·        skala nyeri pada angka nol
·        tidak tampak menggaruk lagi
Rencana :
NO
RENCANA
RASIONAL
1
2.
3.
4.
5.
Observasi lokasi dan intensitas nyeri, gatal
Anjurkan klien klien untuk tidak menggaruk terlalu keras
Ajarkan dan anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi dan distraksi
Anjurkan mengganti pakaian dalam sesering mungkin
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian :
- kumur pembersih mulut
- obat rendam
- analgetik
Mengetahui lokasi dan intesitas nyeri sehingga dapat merencanakan tindakan selanjutnya
Menghindari terjadinya lesi yang terlalu dalam
Dapat menyebabkan otot – otot menjadi relaksasi dan mengurangi rangsangan        
/ hantaran nyeri,gatal
Dapat menghindari berkembangnya bakteri/virus yang dapat memperberak keadaan klien
Dapat mengurangi / menghilangkan  keluhan nyeri
2.  Diagnosa Keperawatan II
     Tujuan :
     Ganguan integritas kulit tidak terjadi dengan criteria :
·        tidak lesi pada kulit
·        kulit tampak utuh
Rencana ;
NO
RENCANA
RASIONAL
1.
2.
3.
4.
Anjurkan klien meningkatkan personal hygiene kulit dengan mandi 3x sehari secara teratur dengan air bersih
Anjurkan memperbaiki status gizi
Anjurkan untuk selalu memakai onat kumur / obat rendam yang seseuai dengan infeksi yang diderita
Ajarkan cara oral hygiene dan vulva hygiene sesuai prosedur
Mencegah penyebaran virus serta mencegah terjadinya infek sekunder
Status gizi yang baik mencegah terjadinya infeksi semakin berat
Mencegah lesi menyebar luas dan semakin dalam
Mencegah infeksi menyebar
3.  Diagnosa keperawatan III  
     Tujuan ;
     Kerusakan interaksi sosial dapat dihindari dengan criteria ;
·        klien dapat menerima keadaannya
·        klien tidak malu untuk bergaul
·        klien tidak merasa rendah diri
Rencana ;
NO
RENCANA
RASIONAL
1.
2.
3.
4.
5.
Kaji mekanisme koping klien
Bina hubungan saling percaya dengan klien
Beri kesempatan klien untuk mengunkapkan perasaannya
Berikan motivasi pada klien bahwa masalah kulit yang diderita akan dapat diatasi dengan kesadaran klien untuk berobat
Berikan alternatif pemecahan  masalah
Mengetahui koping yang dipergunakan klien dalam menghadapi masalahnya sehingga dapat menentukan tindakan yang akan diberikan
Kepercayaan akan dapat menyebabkan klien kooperatif atas tindakan yang dilakukan
Menunjukkan penerimaan dan memudahkan untuk belajar dan untuk mengetahui keadaan psikologi sklien
Meningkatkan kepercayaan diri klien dan merangsang klien untuk menuntaskan pengobatan yang harus dilakukan
Memudahkan klien untuk beradaptasi terhadap keadaan yang dialaminya saat ini
     4.  Diagnosa keperawatan IV
     Tujuan :
     Resiko penularan tidak terjadi / dapat dihindari
     Rencana :
NO
RENCANA
RASIONALISASI
1.
2.
3.
4.
Identifikasi factor – factor predisposisi terjadinya penularan
Anjurkan klien menjaga kebersihan diri ( kulit terutama daerah oral dan vulva,pakaian , lingkungan )
Anjurkan klien untuk melakukan pengobatan dan perawatan penyakitnya secara teratur dan sampai tuntas
Anjurkan klien untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain terutama hubungan seksual
Agar mengetahui factor predisfosis terjadinya penyakit sehingga dapat untuk dihindari
Dengan menjaga kebersihan diri dapat mencegah berkembangbiakan virus
Pengobatan yang teratur dan tuntas dapat mencegah kekambuhan, selain itu untuk mempercepat penyembuhan
Mencegah terjadinya penularan 
Description: LP HERPES SIMPPLEK Rating: 4.5 Reviewer: Ningsih iyya - ItemReviewed: LP HERPES SIMPPLEK

No comments:

Post a Comment

Google+ Followers